Putih dan Hitam

Aku adalah anggota baru. Langsung digadang ke kelompok baju putih. Banyak kaum wanita namun sedikit pria di sana. Semuanya tertata rapi, cantik dan teratur. Tere dijaga oleh pengasuh, bersama balita2 lain yang tak kulihat keberadaannya. Mereka mengajakku berjalan2 ke sekitar lokasi. Daerahnya memanjang. Kelompok baju putih mendapat 2 ruang di daerah kanan. Ada ruang besar di tengah untuk bersosialisasi antar kedua kelompok, dimana ruang besar tersebut kosong. Di bagian kiri, ada 2 ruang juga, berisi kelompok baju hitam. Saat itu aku melihat kelompok baju hitam begitu dekil, kumal dan menyeramkan. Seolah mereka adalah kaum tersingkirkan yang wajib dijauhi oleh kelompok putih. 

Suatu ketika, aku tertarik mendekati kelompok hitam. Aku merasa mereka lebih bebas berekspresi dan bahagia. Aku memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Tampaknya jumlah wanita dan pria tak berbeda jauh, tidak seperti di kelompok putih. Ada seorang pria hitam yang ditugaskan untuk membantu membawakan barang2ku dari daerah putih ke hitam. Dan dijadwalkan Tere akan diantar menyusulku. Setelah bersama kelompok hitam, aku tidak melihat mereka sebagai kumpulan orang yang dekil, kumal dan menyeramkan seperti sebelumnya. Wajah mereka tetap cantik, cerah, dan bersih. Hanya beda warna baju saja. Hanya beda sikap saja. Aku telah salah memandang kelompok hitam sebelumnya. Dan mimpiku pun berakhir di situ. Aku bahagia menjadi kelompok hitam. 

Comments